Posted by: Santo | March 27, 2016

Unlock my password and username..

Finally after so many years for the first time i could login to my WordPress blog. thinking to start blog-ing 😀

 

 

Advertisements
Posted by: Santo | August 27, 2008

Semoga Makin Dewasa…

Jika tanggal 17 agustus kemarin Indonesia merayakan ulang tahun kemerdekaanya yang ke 63, hari ini pada tanggal 26 agustus adalah hari yang sangat bersejarah karena pada hari itu, 22 tahun yang silam telah lahir seorang pria bernama Susanto…🙂

Yupzzz…..usia saya makin bertambah dan sekarang sudah memasuki usia yang ke-22, itu artinya jatah umurku di dunia sudah berkurang 22 tahun. Waduh…udah setua ini, udah ngapain aja ya selama ini?….

Bagi saya, sebenarnya tidak ada sesuatu yang spesial dengan hari ulang tahun saya karena memang ulang tahun saya tidak pernah ada yang merayakan, termasuk saya sendiri..hehe..(kasian bgt sih 🙂 ). Kalau melihat perayaan ulang tahun yang selama ini terjadi rasa-rasanya momen seperti ulang tahun bukan merupakan suiatu hal yang patut dirayakan dengan bersenang-senang lewat acara pesta atau seremonial lainnya karena justru harusnya kita bersedih dengan semakin berkurangnya jatah umur kita untuk hidup di dunia. Alangkah lebih baiknya jika momen yang terjadi setahun sekali ini kita manfaatkan untuk melakukan refleksi atau sekedar introspeksi diri mengenai hal-hal yang telah dilakukan dimasa lalu dan apa saja yang mesti dilakukan untuk kedepannya.

Ya,, bagi saya sendiri semoga ini bisa dijadikan sebagai semangat baru untuk semakin bersikap dewasa dan semakin berusaha keras untuk mewujudkan semua impian-impian serta rencana hidup yang saya miliki. Semoga hidup saya semakin berarti bagi saya pribadi, semua orang serta mahluk yang ada serta alam di dunia ini. Amin…

Posted by: Santo | August 7, 2008

Bangkitlah Negeriku, Harapan itu Masih Ada…

Peliknya masalah yang mendera negeri ini, membuat kita terkadang merasa pesimis untuk bisa bangkit menjadi bangsa yang maju dan sejahtera. Ironis memang, sebagai negara yang dikaruniai kekayaan alam yang sangat melimpah, Indonesia justru termasuk dalam kelompok negara miskin dan terbelakang dengan tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap bangsa lain. Lantas sebenarnya apakah akar permasalahan yang menjadikan kondisi Indonesia seperti ini?

KKN disegala bidang

Indonesia termasuk salah satu negara dengan tingkat korupsi tertinggi di dunia. Hebatnya lagi budaya korupsi telah mengakar dari tatanan birokrat level bawah hingga teknokrat istana. Sebenarnya masalah KKN merupakan masalah klasik, hal  ini pula yang mendasari tumbangnya rezim orde baru yang berkuasa selama 32 tahun di negeri tercinta ini, namun meskipun demikian memberantas KKN bukan lah perkara yang mudah. Di era reformasi ini KKN tetap menjadi permasalahan nomor wahid. Bahkan semenjak diberlakukannya otonomi daerah KKN kian meluas dan semakin merata  disegala bidang.
Keseriusan pemerintah untuk memberantas KKN kini mulai mencuat lagi dengan semakin gencarnya komisi pemberantsasan korupsi (KPK) dalam mengungkap kasus korupsi yang dilakukan oleh oknum pejabat. Akhir-akhir ini mungkin kita sering melihat di media pemberitaan tentang tercorengnya citra legislatif Indonesia akibat ulah beberapa anggota dewan yang terbukti melakukan kasus korupsi.  Tak hanya itu citra kejaksaan pun ikut ternodai akibat ada mantan jaksa yang terlibat dalam kasus suap bahkan dugaan kasus korupsi teranyar menimpa dua orang menteri dan penyidikannya masih berlanjut hingga sekarang.

“Paradigma tua” kepemimpinan Nasional

Saya kurang sependapat dengan pendapat pimpinan salah satu partai politik yang menyatakan bahwa pemimpin harus dari kalangan muda. Bagi saya permasalahannya bukan muda atau tua yang penting adalah cara berpikir yang dimiliki. Meskipun dari kalangan tua jika pola pikirnya revolusioner dan breakthrough itu lebih baik ketimbang kalangan muda yang hanya bermodalkan idealisme tetapi dengan gampangnya idealisme itu hilang ketika berbenturan dengan realitas yang ada.
Bangsa ini membutuhkan figur seorang pemimpin ideal, karena gaya kepemimpinan nasional saat ini menurut analisis saya masih masih menggunakan “paradigma tua” dan bersifat pragmatis. Kebijakan-kebijakan yang diterapkan tidak lagi dari sudut pandang pro masyarakat tetapi lebih mengedepankan unsur politis. Betapa mudahnya pemerintah menetapkan kenaikan BBM disaat tingkat kemiskinan masih tinggi. Padahal meskipun harga minyak dunia naik jika saja para pemimpin itu mau sedikit berpikir untuk mencari alternatif cerdas dalam menutupi defisit anggaran, kenaikan itu tidak semestinya terjadi. Begitu pula dalam kebijakan kompensasi yang diberikan pemerintah malah tak ambil pusing dengan menerapkan kebijakan praktis pemberian BLT kepada rakyat miskin. Padahal program tersebut telah terbukti berjalan tidak efektif.

Aksesibilitas yang rendah terhadap pendidikan tinggi

Konon katanya pendidikan tinggi hanya bisa diakses oleh hanya 2 % saja dari total penduduk Indonesia. Kalau berbicara masalah pendidikan rasanya memang sangat miris, 20 % anggaran nasional untuk pendidikan masih hanya sebatas wacana yang tak kunjung direalisasikan. Akibatnya pendidikan tinggi, yang merupakan sarana efektif untuk membentuk generasi handal yang siap bersaing, masih dirasakan sebagai barang mewah dan hanya sebagian kecil yang dapat merasakannya. Hal itu diperparah dengan makin banyaknya perguruan tinggi yang semakin mengomersilkan diri dengan dalih untuk meningkatkan kualitas universitas. Sebut saja PTN – PTN favorit seperti UI, ITB, UGM dan IPB yang lebih dulu statusnya berubah menjadi BHMN kini biaya yang ditetapkan untuk mahasiswanya tidak berbeda dengan biaya kuliah di universitas swasta, bahkan mungkin lebih mahal.

Idealisme itu hanya ada di dunia kampus dan forum seminar

Sosok idealis sepertinya hanya ditemukan dalam diri mahasiswa dan pembicara dalam forum seminar. Betapa tidak, oknum pejabat dan teknokrat yang sekarang berada pada tampuk kepemimpinan bangsa semuanya berawal dari status mahasiswa, mungkin dulu mereka juga termasuk aktivis mahasiswa berjaket kuning, biru, merah dan lainnya  yang getol berdemonstrasi menyuarakan idealismenya. Namun setelah mereka terjun langsung dalam birokrasi pemerintahan idealisme yang mereka miliki selama ini hilang seketika ketika dihadapkan dengan realitas yang ada. Sedangkan bagi mereka yang masih memiliki jiwa idealis umumnya mereka enggan untuk masuk dalam pemerintahan dan lebih memilih menjadi pembicara seminar-seminar yang diadakan di kampus yang bertemakan kritik terhadap kebijakan pemerintah. Dengan lantang dan tegas sang idealis berorasi dalam forum seminar menjual data-data kebobrokan pemerintah sementara hal ini mungkin hanya menjadi bahan tertawaan bagi rekan-rekannya yang dulu juga idealis hanya saja mereka kini berada dalam pemerintahan. Pengalaman saya sendiri setiap kali mengikuti forum seminar seperti ini yang saya rasakan hanyalah pesimisme dan hilangnya kebanggaan menjadi bangian dari bangsa Indonesia, oleh karena itu terkadang saya malas untuk mengikuti seminar maupun kajian yang sifatnya hanya membeberkan aib bangsa ini.

Yakinlah masih ada secercah harapan itu…

Dengan potensi besar yang dimiliki, bukanlah hal mustahil jika kelak bangsa ini mampu bersaing dalam tataran dunia internasional bahkan menjadi negara maju seperti Jepang dan Amerika Serikat asalkan saja kita mau mengubah mentalitas bangsa ini. Bagaimana kita mau mengubahnya tentu saja harus paripurna mulai dari mentalitas teknokrat dan pejabat pemerintahan, partai politik dan segenap elemen bangsa termasuk kita di dalamnya sebagai mahasiswa.

-memperingati 100 tahun kebangkitan nasional-

Posted by: Santo | August 2, 2008

Kasih Sayang Seorang Ibu……

Sudah hampir tiga tahun saya tidak berjumpa dengan ibu, meskipun begitu saya masih sering berkomunikasi via telepon. Dan ketika membaca – baca artikel yang ada di komputerku ada sebuah artikel yang sangat bagus dalam menggugah hati ini akan kasih sayang seorang ibu. Oiya ini artikelnya;

Kasih Sayang Seorang Ibu……

Saat kau berumur 15 tahun, dia pulang kerja dan ingin memelukmu. Sebagai balasannya, kau kunci pintu kamarmu.

Saat kau bermur 16 tahun, dia ajari kau mengemudi mobilnya. Sebagai balasannya, kau pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa peduli kepentingannya.

Saat kau umur 17 tahun, dia sedang menunggu telepon yang penting. Sebagai balasannya, kau pakai telepon nonstop semalaman.

Saat kau berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kau lulus SMA. Sebagai balasannya, kau berpesta dengan temanmu hingga pagi.

Saat kau berumur 19 tahun, dia membayar biaya kuliahmu dan mengantarmu ke kampus pada hari pertama. Sebagai balasannya, kau minta diturunkan jauh dari pintu gerbang agar kau tidak malu di depan teman-temanmu.

Saat kau berumur 20 tahun, dia bertanya” dari mana saja seharian ini?”. sebagai balasannya kau jawab, “ ah ibu cerewet amat sih, ingin tahu urusan orang!”

Saat kau berumur 21 tahun, dia menyarankan satu pekerjaan yang bagus untuk karirmu di masa depan. Sebagai balasannya, kau katakan” aku tidak inin seperti ibu”.

Saat kau berumur 22 tahun, dia memelukmu dengan haru saat kau lulus perguruan tinggi. Sebagai balasannya, kau Tanya dia kapan kau bisa ke Bali?

Saat kau berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah barumu. Sebagai balasannya kau ceritakan kepada temanmu betapa jeleknya furniture itu.

Saat kau berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmudan bertanya tentang rencananya di masa depan. Sebagai balasannya, kau mengeluh” bagaimana ibu ini, kok bertanya seperti itu?”

Saat kau berumur 25 tahun, dia membantumu membiayai pernikahanmu. Sebagai balasannya kau pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 KM.

Saat kau berumur 30 tahun, dia memberikan beberapa nasihat bagaimana merawat bayimu. Sebagai balasannya kau katakan padanya“ Bu, sekarang zamannya sudah berbeda!“

Saat kau berumur 40 tahun, dia menelepon untuk memberitahukan pesta ulang tahun salah seorang kerabat. Sebagai balasannya, kau jawab“ Bu, saya sibuk sekali, nggak ada waktu“.

Saat kau berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan, sehingga memerlukan perawatanmu. Sebagai balasannya, kau baca tentang pengaruh negatif orang tua yang menumpang tinggal di rumah anak-anaknya.

Dan hingga suatu hari, dia meninggal dengan tenang. Dan tiba-tiba kau teringat semua yang belum pernah kau lakukan, karena mereka datang menghantam HATI mu bagaikan palu godam.

*sesungguhnya cinta orang tua pada anaknya adalah utang yang tak pernah mereka tagih, tapi juga tak akan pernah bisa untuk dilunasi sang anak (kutipan dari ucapan yang saya dapatkan waktu hari ibu)*

Posted by: Santo | August 2, 2008

Cinta dan Waktu

Alkisah di suatu pulau kecil, tinggalah berbagai macam benda-benda abstrak ada cinta, kesedihan, kekayaan, kegembiraan dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik.

Namun suatu ketika, datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri. Cinta sangat kebigungan sebaba ia tidak dapat berenang dan tak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan. Sementara itu air makin naik membasahi kaki cinta.

Tak lama cinta melihat kekayaan sedang mengayuh perahu. “kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!” teriak cinta. ”Aduh! Maaf, cinta!” kata kekayaan, ”perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagi pula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini.”

Lalu kekayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi. Cinta sedih sekali, namun kemudian dilihatnya kegembiraan lewat dengan perahunya. “kegembiraan! Tolong aku!”, teriak cinta. Namun kegembiraan terlalu gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia tak mendengar teriakan cinta.

Air makin tinggi membasahi cinta sampai ke pinggang dan cinta semakin panik. Tak lama lewatlah kecantikan.” Kecantikan bawalah aku bersamamu!”, teriak cinta. “wah, cinta, kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini.” Sahut kecantikan.

Cinta sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itu lewatlah kesedihan.”oh kesedihan, bawalah aku bersamamu,” kata cinta. “maaf cinta kau sedang sedih dan aku ingin sendirian saja…” kata kesedihan sambil terus mengayuh perahunya. Cinta putus asa. Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya. Pada saat krisis itulah tiba-tiba terdengar suara, ”cinta! Mari cepat naik ke perahuku!” cinta menole ke arah suara itu dan melihat seorang tua dengan perahunya . cepat-cepat cinta naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya.

Di pulau terdekat, orang itu menurunkan cinta dan segera pergi lagi. Pada saat itulah cinta bru sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui sama sekali siapa orang tua yang sudah menyelamatkannya itu. Cinta segera menanyakannya kepada seorang penduduk tua di pulau itu, ” oh orang tua tadi? , dia adalah waktu”. Kata orang itu. ”tapi mengapa ia menyelamatkanku? Aku tak mengenalnya, bahkan teman-teman yang mengenalku pun enggan menolongku” tanya cinta heran. ”sebab”, kata orang itu ” hanya waktulah yang tahu berapa nilai sesungguhnya dari Cinta itu…………”

*sebenernya agak males mosting ginian……tapi lebih baik mengungkapkan tentang cinta lewat tulisan karena masih belum bisa secara langsung….. :D*

Posted by: Santo | July 27, 2008

Bangkit, Bergerak dan Wujudkan….

Entah mengapa saya ingin menuliskan sesuatu yang bisa memberikan energi motivasi, minimal bagi diri saya sendiri.

Kalau mendengar kata bangkit identik dengan suatu keadaan yang didahului oleh keterpurukan. Memang seperti itulah pada umumnya tetapi bangkit yang saya maksudkan disini adalah upaya untuk melepaskan diri dari belenggu angan-angan dan hal-hal bodoh yang semestinya tidak saya lakukan. Kadang secara sadar atau tidak sebagai manusia biasa kita sering melakukan hal yang sebenarnya sudah jelas-jelas ditentang oleh hati nurani dan logika. Namun inilah uniknya manusia sebagai mahluk Tuhan yang paling sempurna selain dianugerahi akal pikiran manusia juga diberikan ego atau nafsu. Kedua hal ini cenderung kontradiktif dan sulit sekali untuk bisa menyelaraskannya sehingga mau tidak mau salah satunya akan lebih mendominasi tergantung dari masing-masing individu. Ada orang yang lebih mengutamakan egonya dan ada juga yang lebih mengutamakan rasio. Yang dimaksud ego atau nafsu disini adalah suatu kecenderungan, dalam Islam sendiri (kalau tidak salah) nafsu itu ada yang baik dan juga ada yang buruk. Kalau berbicara kedua jenis nafsu tersebut biasanya faktor yang paling menentukan adalah tingkat keimanan atau ketaatan seseorang dalam menjalankan perintah Allah. Sedangkan kondisi keimanan seseorang pun bersifat fluktuatif kadang naik, stagnan, atau bahkan turun. Hal inilah yang pada akhirnya menjadikan kecenderungan dalam bertindak, seperti yang saya utarakan sebelumnya kita (lebih tepatnya saya) sering melakukan hal -hal yang sebenarnya secara logika dan nurani kita salah. Bersyukurlah bagi kita yang cepat tersadar (baca: bangkit) akan kesalahan yang telah dilakukan.

Cukupkah hanya bangkit? Tentu saja tidak, setelah bangkit kita perlu bergerak. Ibarat orang tidur meskipun sudah terbangun dan bangkit dari tempat tidurnya jika dia tidak bergerak dari ranjang atau tempat tidur maka kemungkinan besar akan tertidur lagi. Seperti sebuah kesalahan, jika kita telah melakukannya tak hanya cukup menyesali kesalahan yang telah dilakukan tetapi harus juga melakukan hal-hal yang dapat memperbaikinya jika dianalogikan dalam matematik kita harus mengubah dari nilai yang minus tidak hanya sebatas menjadi nol tetapi harus menjadi positif.

Bergerak, bergerak dan teruslah bergerak untuk mewujudkan semua mimpi-mimpimu. Kejarlah apa yang selama ini kamu cita-citakan jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan dan kepercayaan yang telah diberikan. Ingatlah hidup kita bukan hanya untuk kita pribadi dan bukan hanya untuk saat ini. Hidup yang kita jalani hanya sekali jika yang satu kali ini tidak kita optimalkan maka tidak akan ada kesempatan untuk yang kedua. Jangan pula cemen karena hidup ini butuh struggle, bermimpilah tentang hal-hal besar acuhkan orang lain berkata apa, yakinlah mimpi itu akan terwujud!

Posted by: Santo | July 25, 2008

Aku “Bangga” menjadi Anak Indonesia

Sedikit terenyuh melihat tayangan nuansa pagi yang ditayangkan di RCTI pagi ini (25 juli 2008). Pada acara tersebut digambarkan realitas sosok anak-anak Indonesia yang ter marginal kan dan harus berjuang melawan kerasnya hidup di Jakarta. Dalam acara tersebut juga disebutkan beberapa predikat bagi anak Indonesia.

Predikat yang pertama adalah anak Indonesia kuat-kuat. Untuk mengilustrasikan predikat ini dalam liputan tersebut ditayangkan sesosok anak yang pekerjaannya tiap hari adalah sebagai penarik Troli yang mengangkut orang dan barang. Ketika ditanya sang anak menuturkan pekerjaan itu dilakukan untuk membantu orang tua dan membiayai sekolahnya. Tiap hari rata-rata uang yang dihasilkan berkisar tiga belas ribu sampai dua puluh ribu rupiah.

Predikat kedua, anak Indonesia sangat kreatif. Predikat ini diberikan bagi anak-anak yang mengamen di metromini dan angkutan umum di Jakarta. Dalam tayangan tersebut ada dua gadis kecil yang sedang asik mengamen dengan alunan gitar dan suaranya yang khas. Alasan si anak mengamen ketika ditanyai adalah untuk makan dan membiayai sekolahnya, katanya lagi kalau gak ngamen ya gak makan.

Anak indonesia cinta kebersihan, itulah predikat ketiga yang diberikan. Predikat seperti ini disandang oleh anak yang bekerja dengan menyapu diatas KRL (bagi yang sering naik KRL pasti suka liat yang kek gini). Sama seperti dengan anak-anak penerima kedua predikat sebelumnya si anak pecinta kebersihan ini melakukannya untuk mencari sesuap nasi (baca:makan). Namun hal yang sangat disayangkan adalah si anak ini tidak bersekolah meskipun ketika ditanya bercita – cita ingin menjadi dokter kelak ketika dewasa.

Itulah tiga predikat yang diulas pada tayangan tersebut meskipun sebenarnya banyak sekali predikat yang menggambarkan realitas anak-anak indonesia yang harus berjuang dalam menghadapi survival of life yang mungkin kondisinya banyak yang jauh lebih parah dari itu. Haruskah beban berat itu mereka pikul? Tapi inilah realitas!

Anak-anak seusia mereka seharusnya merasakan indahnya masa anak-anak; kasih sayang orang tua, pendidikan dasar, bermain dengan teman sebaya, menerima uang jajan dan bebas dari tuntutan mencari nafkah. Perih rasanya jika melihat hal ini, himpitan ekonomi orang tua mereka biasanya menjadi penyebab utama. Dengan semakin tingginya biaya hidup dan sedikitnya lapangan pekerjaan banyak orang tua yang tidak mampu membiayai kebutuhan pendidikan anaknya, bahkan untuk makan sehari-hari pun mereka sulit.

Adalah hal yang tidak mudah untuk bekerja sembari menempuh pendidikan. Termasuk yang saya alami sendiri, sejak awal kuliah saya memutuskan untuk tidak akan membebani orang tua saya yang memang memiliki keterbatasan dari segi finansial. Bagi saya sendiri sebenarya sudah sangat bersyukur bisa menempuh pendidikan apalagi sekarang saya akan menginjak tingkat empat kuliah di universitas Indonesia – universitas yang paling kesohor di negeri ini (narsis dikit.:D ). Maklumlah orang tuaku sendiri hanya bisa mengenyam pendidikan sampai tingkat SD, bahkan ayah saya hanya bersekolah sampai kelas 1 SD sehingga tidak memiliki ijazah sama sekali. Namun dengan kondisi ini tidak mematahkan semangat saya untuk mewujudkan apa yang telah saya cita-citakan. Dengan prestasi yang saya miliki sejak SD hingga sekarang saya banyak mendapatkan bantuan beasiswa. Bekerja sambilan pun saya lakukan untuk memenuhi biaya hidup dan menutup kekurangan biaya kuliah. Bahkan hasil kerja sambilan saya sudah bisa saya investasikan untuk membeli sepeda motor dan komputer. Rencananya saya juga akan menginvestasikannya untuk membuka usaha agar bisa membuka lapangan kerja dan membantu orang lain meskipun sampai saat ini masih dalam perencanaan. Apa yang saya peroleh sebenarnya sebanding dengan pengorbanan yang saya berikan, tidak hanya ego masa remaja yang saya korbankan namun kuliah saya pun sempat terbengkalai. Meskipun Kadang saya merasa iri dengan teman-teman yang bisa menikmati masa remajanya tanpa terbebani hal ini. Tetapi jika saya sedikit berintrospeksi ternyata saya jauh lebih beruntung dibandingkan dengan banyak sekali anak-anak indonesia yang masih belum bisa merasakan indahnya pendidikan tinggi. Dari sinilah saya mencoba reorientasi diri agar tidak menyia-nyiakan kesempatan yang saya miliki untuk bisa kuliah dengan sebaik-baiknya dan menyeimbangkan dengan pekerjaan sambilan yang saya jalani. Dan saya juga yakin banyak diantara rekan-rekan mahasiswa lain di negeri ini yang bernasib seperti saya atau bahkan lebih parah yang harus berjuang untuk kuliah dan bertahan hidup. Yakinlah dengan pengorbanan yang tulus, kesuksesan itu sebuah keniscayaan! Berjuanglah anak Indonesia!! Kalian hebat!!

-Ditulis dalam rangka hari anak tanggal 23 juli-

Posted by: Santo | July 25, 2008

Selamat Tinggal Asramaku Tercinta…

Tanpa terasa sudah tiga tahun lamanya saya menempati asrama beastudi etos. Asrama yang saya tempati ini merupakan salah satu fasilitas yang diberikan bagi setiap penerima beastudi (baca:etoser) disamping uang saku bulanan, biaya kuliah tahun pertama dan pembinaan intensif. Periode beasiswa ini selama tiga tahun dan diberikan sejak awal masuk kuliah dan kini bagi saya yang sudah melewati tahun ketiga harus rela menjadi alumni (baca: tidak mendapat beastudi etos lagi).

Kehidupan tiga tahun di Asrama adalah hal yang sangat berkesan bagi saya. Banyak sekali lika-liku kehidupan yang dijalani dalam suatu komunitas yang terdiri dari individu yang heterogen mulai dari sikap, cara berfikir dan prinsip yang dimiliki. Semua hal tersebut menjadi sesuatu yang sangat menarik meskipun kadang sering berbenturan namun itu semua adalah sebuah proses dalam pematangan bagi setiap individu. Asrama merupakan salah satu hal yang berperan penting dalam pembentukan kepribadian saya, disini saya banyak belajar tentang berbagai hal terutama tentang agama, pengembangan diri dan kemandirian.

Tiga tahun sebenarnya bukan waktu yang sebentar, selama tiga tahun itu pula rasanya sudah cukup untuk membentuk satu ikatan persaudaraan yang erat antar sesama penghuni asarama khususnya bagi teman-teman satu angkatan. Selama tiga tahun menjalani hidup bersama kita bisa saling mengenal karakter dan kecenderungan setiap individu. Selama tiga tahun itu pula banyak kenangan yang indah (meskipun banyak juga yang tidak menyenangkan….heheee) yang dilalui.

Akhirnya kini tiba saatnya bagi saya untuk memasuki kehidupan dikontrakan yang baru. Sengaja saya tidak memilih tinggal di kos-kosan karena tinggal dikos-kosan cenderung lebih individualis dibandingkan bila ngontrak bareng 1 rumah rame-rame bareng temen-temen…

 

            Secara umum buku “Bagaimana Seorang Muslim Berfikir” ini menuntun pembacanya untuk senantiasa berfikir atas fenomena dan segala hal yang terjadi baik dalam diri kita maupun yang terjadi pada alam semesta sesuai dengan apa yang telah dijelaskan dalam al-qur’an. Buku yang terdiri dari tujuh bagian ini membahas segala hal yang berkaitan tentang urgensi berpikir secara mendalam, mulai dari fenomena-fenomena yang mendorong kita untuk berfikir, paradigma berfikir&bahaya jika kita tidak membiasakan berfikir, pikiran sia-sia yang seharusnya tidak kita pikirkan, faktor-faktor yang menyebabkan seseorang tidak mau berfikir, hal-hal yang hendaknya difikirkan dan memikirkan ayat-ayat al-qur’an.

 

            Segala sesuatu yang terjadi dalam keseharian hidup kita sebenarnya memiliki makna yang mendalam tentang kebesaran sang Khaliq jika kita sadar untuk memikirkannya secara mendalam. Persepsi yang ada selama ini adalah untuk berfikir secara mendalam kita memerlukan kondisi – kondisi khusus yang mungkin sukar untuk kita lakukan namun sebenarnya sesuai dengan apa yang dipaparkan dalam buku ini berpikir secara mendalam dapat dilakukan dalam kondisi apapun dan kapanpun. Berpikir dapat membebaskan seseorang dari sihir/tipuan selain itu kita juga akan memperoleh manfaat yang sangat banyak dari berfikir jika kita melakukannya secara ikhlas.

 

            Disadari atau tidak manusia sering berfikir tentang hal-hal yang sebenarnya bersifat sia-sia dan tidak perlu untuk difikirkan karena hal itu boleh jadi hanya berupa angan-angan kosong yang sengaja dibisikan oleh syetan kepada manusia. Ada berbagai faktor yang menyebabkan manusia tidak mau berfikir, antara lain: kelumpuhan mental akibat mengikuti kebanyakan orang, kemalasan mental, anggapan bahwa berpikir mendalam tidaklah baik, berlepas diri dari tanggung jawab melaksanakan apa yang diperoleh dari hasil berpikir, terlenakan oleh kehidupn sehari-hari, dan disebabkan karena melihat segala sesuatu dengan “penglihatan yang biasa”, sekedar melihat tanpa perenungan. Pun demikian pada bagian lain dalam buku ini dibahas tentang hal-hal yang yang bisa menyebabkan seseorang dapat befikir dan mengambil manfaat yang besar dari apa yang dipikirkannya tersebut, hal – hal tersebut antara lain: bangun dari tidur; sadar akan kelemahan diri sebagai manusia biasa; karakteristik tubuh manusia yang khas; perjalanan yang dilakukan; warna – warni dunia; kematian seseorang; ketika menghadapai kesulitan; ketika mengerjakan sesuatu; fenomena sarang laba-laba; penyakit; bertemu dengan orang-orang yang arogan, tidak sopan, suka menyinggung perasaan orang lain; ketika sedang makan; ketika berjalan-jalan di taman dan masih banyak hal-hal lainnya yang dapat mendorong kita untuk berfikir secara mendalam.

 

Pada bagian akhir pembahasn buku ini penulis mengajak kita untuk memikirkan ayat-ayat al-qur’an, beberapa diantaranya adalah:

·        perintah Allah kepada manusia untuk berfikir (Q.S An-nahl, 16:44);

·        Allah mengajak manusia untuk berpikir tentang penciptaan alam semesta

(Q.S Al-Baqarah, 2:164);

·         Allah mengajak manusia untuk memikirkan sifat kehidupan di dunia yang bersifat sementara (Q.S Yunus, 10:24);

·        Allah mengajak manusia untuk memikirkan nikmat-nikmat yang mereka miliki

(Q.S Ar-Ra’d, 13;3-4);

·        Allah mengajak manusia untuk berfikir bahwa seluruh alam semesta telah diciptakan untuk manusia (QS. Al-Jaatsiyah, 45:13; QS. An-Nahl, 16: 11-17; (Qs. An-Nahl, 16: 12; QS. Qaaf, 50: 6-8);

·        Allah mengajak manusia untuk berpikir tentang dirinya sendiri (QS. Ar-Ruum, 30:8);

·        Allah mengajak manusia untuk berpikir tentang akhlak yang baik

(QS. Al-An‘aam, 6: 152; QS. An-Nahl, 16: 90; QS. An-Nuur, 24: 27);

·        Allah mengajak manusia untuk berpikir tentang akhirat, hari kiamat dan hari penghisaban (QS. Aali ‘Imraan, 3: 30; QS. Shaad, 38: 45-46; QS. Muhammad, 47: 18; QS. Al-Qashas, 28: 70);

·        Allah mengajak manusia untuk memikirkan makhluk hidup yang Dia ciptakan

(QS. An-Nahl, 16: 68-69);

·        Allah mengajak manusia untuk memikirkan adzab yang dapat secara tiba-tiba menimpanya (QS. Al-An‘aam, 6: 40; QS. Al-An‘aam, 6: 46; QS. Al-An‘aam, 6: 47; QS. Yuunus, 10: 50; QS. At-Taubah, 9: 126; QS. Al-Qashas, 28: 43; QS. Al-Qamar, 54: 51; QS. Al-A‘raaf, 7: 130);

·         Allah mengajak manusia untuk memikirkan tentang Al-Qur’an (QS. An-Nisaa’, 4: 82; QS. Al-Mu’minuun, 23: 68; QS. Shaad, 38: 29; QS. Ad-Dukhaan, 44: 58; QS. Al-Muddatstsir, 56: 54-55; QS. Thaahaa, 20: 113);

·        Rasul-rasul Allah mengajak umatnya yang kurang dalam hal pemahaman untuk berpikir (QS. Al-An‘aam, 6: 50; QS. Al-An‘aam, 6: 80);

·        Allah mengajak manusia berpikir untuk melawan pengaruh syaitan

(QS. Al-A‘raaf, 7: 200-202);

·         Perintah Allah untuk mengarahkan orang yang diberi penjelasan tentang ajaran agama agar berpikir secara mendalam (QS. Thaahaa, 20: 42-44); dan

·        Allah mengajak manusia untuk berpikir tentang kematian dan mimpi

(QS. Az-Zumar, 39: 42).

 

 

 

 

 

           

           

           

Posted by: Santo | July 7, 2008

Yang Muda Semestinya Belajar dari Yang Tua

Hari selasa kemarin (1 juli 2008) saya memperbaiki motor saya yang setelah ditinggal selama 5 hari pergi ke luar kota ternyata tidak bisa dinyalakan dengan starter, tapi masih nyala jika menggunakan kick starter. Dugaan saya (berdasarkan pengalaman sebelumnya) penyebabnya adalah accu motor yang perlu distrum lagi karena 5 hari berturut-turut tidak dipanaskan sehingga accu tersebut yang semestinya bisa menghasilkan energi listrik dari reaksi elektrokimia menjadi tidak berfungsi.

Awalnya saya membawa motor saya seperti biasa ke bengkel resmi Honda, karena setiap kali servis rutin memang selalu disitu tapi ternyata diluar dugaan mereka tidak memiliki alat strum accu (bengkel sebesar itu ternyata belum tentu lengkap ya…). Akhirnya saya mencari-cari bengkel disepanjang margonda – Depok yang memiliki alat setrum accu motor dan ternyata tidak jauh dari bengkel Honda tadi ada tukang tambal ban di pinggir jalan yang juga menerima jasa strum accu motor.

Untuk menyetrum accu tersebut ternyata dibutuhkan waktu 1 jam sehingga saya harus menunggu selama 1 jam itu. Sambil menunggu saya habiskan waktu saya dengan mengobrol menggali pengalaman dari tukang tambal ban itu (sebut saja Pak Min, nama panggilan). Pak min banyak bercerita tentang perjalanan karirnya, dimana beliau adalah sebenarnya telah bekerja sebagai montir mobil selama kurang lebih 30 tahun, saking banyaknya pengalaman tersebut dia tahu betul all about mobil dan sparepartnya alhasil dia adalah orang kepercayaan tempat bengkel dimana dia bekerja dulu. Bahkan ketika pak min memutuskan untuk berhenti majikannya selalu melarangnya dan menawarkan fasilitas apapun yang dia minta akan diberikan oleh sang majikan. Tetapi semua itu tak mengubah pendirian pak min untuk berhenti bekerja dari bengkel mobil selain karena umurnya yang sudah renta beliau juga menderita asma yang menyebabkan ia tidak lagi prima untuk bekerja secara fulltime. Oiya hasil jerih payah selama itu pun tidak sia-sia karena pak min berhasil menginvestasikannya pada Rumah yang ditempatinya bersama keluarga dan 7 unit kosan yang terletak sekitar kampus UI-Depok. Investasi tersebut kini sangat dirasakan manfaatnya karena dari kosan itulah ia bisa memenuhi kebutuhan hidup dan biaya sekolah bagi anak-anaknya, sedangkan dari usaha tambal ban hasilnya tak seberapa hanya cukup untuk membeli makan sehari-hari.

Sayangnya sifat pekerja keras yang dimiliki oleh pak min tidak ditiru oleh kedua anaknya yang telah tamat SMA, mereka lebih memilih menganggur ketimbang membantu usaha tambal ban ayahnya, katanya sih gengsi. Pak min bercerita kalau anaknya memang gengsi untuk melakukan pekerjaan seperti itu padahal jika mereka mau hasilnya bisa lumayan dan bisa untuk mereka sendiri. Gengsinya sih sederhana karena malu takut ketahuan sama pacarnya. Pak min sendiri mencontohkan dulu juga banyak saudara-saudaranya yang seperti itu yang lebih menjaga gengsi namun setelah mereka menikah mereka terpaksa berjualan soto, berjualan bakso dan usaha lainnya karena terdesak harus menafkahi istrinya.

Hemmmm,, dari situ saya mencoba mengambil pelajaran hidup itu memang memerlukan pengorbanan, sudah bukan zamannya lagi untuk mendahulukan ego pribadi. Selain itu saya pun mulai memikirkan sudah sejauh mana persiapan ku kearah pernikahan, bukan hanya kesiapan dari segi mental tapi materi juga harus saya persiapkan dari sekarang. Semoga saja saya bisa memberikan yang terbaik bagi istri dan anak-anak saya kelak…(waaa…padahal kuliah aja belum kelar tapi udah ngomongin nikah….tak apalah biar lebih semangat…hahhaaa)

Older Posts »

Categories