Posted by: Santo | July 14, 2008

“Bagaimana Seorang Muslim Berfikir (Deep Thinking)”

 

            Secara umum buku “Bagaimana Seorang Muslim Berfikir” ini menuntun pembacanya untuk senantiasa berfikir atas fenomena dan segala hal yang terjadi baik dalam diri kita maupun yang terjadi pada alam semesta sesuai dengan apa yang telah dijelaskan dalam al-qur’an. Buku yang terdiri dari tujuh bagian ini membahas segala hal yang berkaitan tentang urgensi berpikir secara mendalam, mulai dari fenomena-fenomena yang mendorong kita untuk berfikir, paradigma berfikir&bahaya jika kita tidak membiasakan berfikir, pikiran sia-sia yang seharusnya tidak kita pikirkan, faktor-faktor yang menyebabkan seseorang tidak mau berfikir, hal-hal yang hendaknya difikirkan dan memikirkan ayat-ayat al-qur’an.

 

            Segala sesuatu yang terjadi dalam keseharian hidup kita sebenarnya memiliki makna yang mendalam tentang kebesaran sang Khaliq jika kita sadar untuk memikirkannya secara mendalam. Persepsi yang ada selama ini adalah untuk berfikir secara mendalam kita memerlukan kondisi – kondisi khusus yang mungkin sukar untuk kita lakukan namun sebenarnya sesuai dengan apa yang dipaparkan dalam buku ini berpikir secara mendalam dapat dilakukan dalam kondisi apapun dan kapanpun. Berpikir dapat membebaskan seseorang dari sihir/tipuan selain itu kita juga akan memperoleh manfaat yang sangat banyak dari berfikir jika kita melakukannya secara ikhlas.

 

            Disadari atau tidak manusia sering berfikir tentang hal-hal yang sebenarnya bersifat sia-sia dan tidak perlu untuk difikirkan karena hal itu boleh jadi hanya berupa angan-angan kosong yang sengaja dibisikan oleh syetan kepada manusia. Ada berbagai faktor yang menyebabkan manusia tidak mau berfikir, antara lain: kelumpuhan mental akibat mengikuti kebanyakan orang, kemalasan mental, anggapan bahwa berpikir mendalam tidaklah baik, berlepas diri dari tanggung jawab melaksanakan apa yang diperoleh dari hasil berpikir, terlenakan oleh kehidupn sehari-hari, dan disebabkan karena melihat segala sesuatu dengan “penglihatan yang biasa”, sekedar melihat tanpa perenungan. Pun demikian pada bagian lain dalam buku ini dibahas tentang hal-hal yang yang bisa menyebabkan seseorang dapat befikir dan mengambil manfaat yang besar dari apa yang dipikirkannya tersebut, hal – hal tersebut antara lain: bangun dari tidur; sadar akan kelemahan diri sebagai manusia biasa; karakteristik tubuh manusia yang khas; perjalanan yang dilakukan; warna – warni dunia; kematian seseorang; ketika menghadapai kesulitan; ketika mengerjakan sesuatu; fenomena sarang laba-laba; penyakit; bertemu dengan orang-orang yang arogan, tidak sopan, suka menyinggung perasaan orang lain; ketika sedang makan; ketika berjalan-jalan di taman dan masih banyak hal-hal lainnya yang dapat mendorong kita untuk berfikir secara mendalam.

 

Pada bagian akhir pembahasn buku ini penulis mengajak kita untuk memikirkan ayat-ayat al-qur’an, beberapa diantaranya adalah:

·        perintah Allah kepada manusia untuk berfikir (Q.S An-nahl, 16:44);

·        Allah mengajak manusia untuk berpikir tentang penciptaan alam semesta

(Q.S Al-Baqarah, 2:164);

·         Allah mengajak manusia untuk memikirkan sifat kehidupan di dunia yang bersifat sementara (Q.S Yunus, 10:24);

·        Allah mengajak manusia untuk memikirkan nikmat-nikmat yang mereka miliki

(Q.S Ar-Ra’d, 13;3-4);

·        Allah mengajak manusia untuk berfikir bahwa seluruh alam semesta telah diciptakan untuk manusia (QS. Al-Jaatsiyah, 45:13; QS. An-Nahl, 16: 11-17; (Qs. An-Nahl, 16: 12; QS. Qaaf, 50: 6-8);

·        Allah mengajak manusia untuk berpikir tentang dirinya sendiri (QS. Ar-Ruum, 30:8);

·        Allah mengajak manusia untuk berpikir tentang akhlak yang baik

(QS. Al-An‘aam, 6: 152; QS. An-Nahl, 16: 90; QS. An-Nuur, 24: 27);

·        Allah mengajak manusia untuk berpikir tentang akhirat, hari kiamat dan hari penghisaban (QS. Aali ‘Imraan, 3: 30; QS. Shaad, 38: 45-46; QS. Muhammad, 47: 18; QS. Al-Qashas, 28: 70);

·        Allah mengajak manusia untuk memikirkan makhluk hidup yang Dia ciptakan

(QS. An-Nahl, 16: 68-69);

·        Allah mengajak manusia untuk memikirkan adzab yang dapat secara tiba-tiba menimpanya (QS. Al-An‘aam, 6: 40; QS. Al-An‘aam, 6: 46; QS. Al-An‘aam, 6: 47; QS. Yuunus, 10: 50; QS. At-Taubah, 9: 126; QS. Al-Qashas, 28: 43; QS. Al-Qamar, 54: 51; QS. Al-A‘raaf, 7: 130);

·         Allah mengajak manusia untuk memikirkan tentang Al-Qur’an (QS. An-Nisaa’, 4: 82; QS. Al-Mu’minuun, 23: 68; QS. Shaad, 38: 29; QS. Ad-Dukhaan, 44: 58; QS. Al-Muddatstsir, 56: 54-55; QS. Thaahaa, 20: 113);

·        Rasul-rasul Allah mengajak umatnya yang kurang dalam hal pemahaman untuk berpikir (QS. Al-An‘aam, 6: 50; QS. Al-An‘aam, 6: 80);

·        Allah mengajak manusia berpikir untuk melawan pengaruh syaitan

(QS. Al-A‘raaf, 7: 200-202);

·         Perintah Allah untuk mengarahkan orang yang diberi penjelasan tentang ajaran agama agar berpikir secara mendalam (QS. Thaahaa, 20: 42-44); dan

·        Allah mengajak manusia untuk berpikir tentang kematian dan mimpi

(QS. Az-Zumar, 39: 42).

 

 

 

 

 

           

           

           

Advertisements

Responses

  1. Kunjungan balasan,

    buku ini saya baca sewaktu sma. ttg bagaimana seharusnya muslim berpikir.

    ketika muslim takjub dengan suatu fenomena alam, ketakjubannya tidak cukup hanya dgn mengagumi alam an sich. tapi dia harus membawa ketakjuban ke dalam ketundukkan kepada Pencipta seluruh alam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: