Posted by: Santo | July 25, 2008

Aku “Bangga” menjadi Anak Indonesia

Sedikit terenyuh melihat tayangan nuansa pagi yang ditayangkan di RCTI pagi ini (25 juli 2008). Pada acara tersebut digambarkan realitas sosok anak-anak Indonesia yang ter marginal kan dan harus berjuang melawan kerasnya hidup di Jakarta. Dalam acara tersebut juga disebutkan beberapa predikat bagi anak Indonesia.

Predikat yang pertama adalah anak Indonesia kuat-kuat. Untuk mengilustrasikan predikat ini dalam liputan tersebut ditayangkan sesosok anak yang pekerjaannya tiap hari adalah sebagai penarik Troli yang mengangkut orang dan barang. Ketika ditanya sang anak menuturkan pekerjaan itu dilakukan untuk membantu orang tua dan membiayai sekolahnya. Tiap hari rata-rata uang yang dihasilkan berkisar tiga belas ribu sampai dua puluh ribu rupiah.

Predikat kedua, anak Indonesia sangat kreatif. Predikat ini diberikan bagi anak-anak yang mengamen di metromini dan angkutan umum di Jakarta. Dalam tayangan tersebut ada dua gadis kecil yang sedang asik mengamen dengan alunan gitar dan suaranya yang khas. Alasan si anak mengamen ketika ditanyai adalah untuk makan dan membiayai sekolahnya, katanya lagi kalau gak ngamen ya gak makan.

Anak indonesia cinta kebersihan, itulah predikat ketiga yang diberikan. Predikat seperti ini disandang oleh anak yang bekerja dengan menyapu diatas KRL (bagi yang sering naik KRL pasti suka liat yang kek gini). Sama seperti dengan anak-anak penerima kedua predikat sebelumnya si anak pecinta kebersihan ini melakukannya untuk mencari sesuap nasi (baca:makan). Namun hal yang sangat disayangkan adalah si anak ini tidak bersekolah meskipun ketika ditanya bercita – cita ingin menjadi dokter kelak ketika dewasa.

Itulah tiga predikat yang diulas pada tayangan tersebut meskipun sebenarnya banyak sekali predikat yang menggambarkan realitas anak-anak indonesia yang harus berjuang dalam menghadapi survival of life yang mungkin kondisinya banyak yang jauh lebih parah dari itu. Haruskah beban berat itu mereka pikul? Tapi inilah realitas!

Anak-anak seusia mereka seharusnya merasakan indahnya masa anak-anak; kasih sayang orang tua, pendidikan dasar, bermain dengan teman sebaya, menerima uang jajan dan bebas dari tuntutan mencari nafkah. Perih rasanya jika melihat hal ini, himpitan ekonomi orang tua mereka biasanya menjadi penyebab utama. Dengan semakin tingginya biaya hidup dan sedikitnya lapangan pekerjaan banyak orang tua yang tidak mampu membiayai kebutuhan pendidikan anaknya, bahkan untuk makan sehari-hari pun mereka sulit.

Adalah hal yang tidak mudah untuk bekerja sembari menempuh pendidikan. Termasuk yang saya alami sendiri, sejak awal kuliah saya memutuskan untuk tidak akan membebani orang tua saya yang memang memiliki keterbatasan dari segi finansial. Bagi saya sendiri sebenarya sudah sangat bersyukur bisa menempuh pendidikan apalagi sekarang saya akan menginjak tingkat empat kuliah di universitas Indonesia – universitas yang paling kesohor di negeri ini (narsis dikit.:D ). Maklumlah orang tuaku sendiri hanya bisa mengenyam pendidikan sampai tingkat SD, bahkan ayah saya hanya bersekolah sampai kelas 1 SD sehingga tidak memiliki ijazah sama sekali. Namun dengan kondisi ini tidak mematahkan semangat saya untuk mewujudkan apa yang telah saya cita-citakan. Dengan prestasi yang saya miliki sejak SD hingga sekarang saya banyak mendapatkan bantuan beasiswa. Bekerja sambilan pun saya lakukan untuk memenuhi biaya hidup dan menutup kekurangan biaya kuliah. Bahkan hasil kerja sambilan saya sudah bisa saya investasikan untuk membeli sepeda motor dan komputer. Rencananya saya juga akan menginvestasikannya untuk membuka usaha agar bisa membuka lapangan kerja dan membantu orang lain meskipun sampai saat ini masih dalam perencanaan. Apa yang saya peroleh sebenarnya sebanding dengan pengorbanan yang saya berikan, tidak hanya ego masa remaja yang saya korbankan namun kuliah saya pun sempat terbengkalai. Meskipun Kadang saya merasa iri dengan teman-teman yang bisa menikmati masa remajanya tanpa terbebani hal ini. Tetapi jika saya sedikit berintrospeksi ternyata saya jauh lebih beruntung dibandingkan dengan banyak sekali anak-anak indonesia yang masih belum bisa merasakan indahnya pendidikan tinggi. Dari sinilah saya mencoba reorientasi diri agar tidak menyia-nyiakan kesempatan yang saya miliki untuk bisa kuliah dengan sebaik-baiknya dan menyeimbangkan dengan pekerjaan sambilan yang saya jalani. Dan saya juga yakin banyak diantara rekan-rekan mahasiswa lain di negeri ini yang bernasib seperti saya atau bahkan lebih parah yang harus berjuang untuk kuliah dan bertahan hidup. Yakinlah dengan pengorbanan yang tulus, kesuksesan itu sebuah keniscayaan! Berjuanglah anak Indonesia!! Kalian hebat!!

-Ditulis dalam rangka hari anak tanggal 23 juli-

Advertisements

Responses

  1. Subhanallah….Ka santo, perjuanganmu emang luar biasa, dari sejak SMA hingga sekarang. Setiap orang punya jalannya masing2. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing2. Yang terpenting, bagaimana kita melihat kelebihan yang kita miliki dan mengoptimalkannya, juga melihat kekurangan yang masih ada dan berusaha memperbaikinya. Smangat!!! Harapan itu masih ada….

  2. yups,,,setuju, semangat man!

  3. siiip
    itu baru ank indonesia, semoga kita sebagai ank indonesia mampu bersaing di kanca dunia walaupun sepower negara itu kita harus hadapi bersama-sama dalam berkompetisi aku yakin kita mapun menjadi anak terhebat di dunia

  4. Alhamdulillah!! Masiah ada yang peduli dengan keadaan negara yang lagi kacau begini!!
    Makanya Kiata Harus bangga menjadi Anak indonesia!!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: