Posted by: Santo | August 7, 2008

Bangkitlah Negeriku, Harapan itu Masih Ada…

Peliknya masalah yang mendera negeri ini, membuat kita terkadang merasa pesimis untuk bisa bangkit menjadi bangsa yang maju dan sejahtera. Ironis memang, sebagai negara yang dikaruniai kekayaan alam yang sangat melimpah, Indonesia justru termasuk dalam kelompok negara miskin dan terbelakang dengan tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap bangsa lain. Lantas sebenarnya apakah akar permasalahan yang menjadikan kondisi Indonesia seperti ini?

KKN disegala bidang

Indonesia termasuk salah satu negara dengan tingkat korupsi tertinggi di dunia. Hebatnya lagi budaya korupsi telah mengakar dari tatanan birokrat level bawah hingga teknokrat istana. Sebenarnya masalah KKN merupakan masalah klasik, hal  ini pula yang mendasari tumbangnya rezim orde baru yang berkuasa selama 32 tahun di negeri tercinta ini, namun meskipun demikian memberantas KKN bukan lah perkara yang mudah. Di era reformasi ini KKN tetap menjadi permasalahan nomor wahid. Bahkan semenjak diberlakukannya otonomi daerah KKN kian meluas dan semakin merata  disegala bidang.
Keseriusan pemerintah untuk memberantas KKN kini mulai mencuat lagi dengan semakin gencarnya komisi pemberantsasan korupsi (KPK) dalam mengungkap kasus korupsi yang dilakukan oleh oknum pejabat. Akhir-akhir ini mungkin kita sering melihat di media pemberitaan tentang tercorengnya citra legislatif Indonesia akibat ulah beberapa anggota dewan yang terbukti melakukan kasus korupsi.  Tak hanya itu citra kejaksaan pun ikut ternodai akibat ada mantan jaksa yang terlibat dalam kasus suap bahkan dugaan kasus korupsi teranyar menimpa dua orang menteri dan penyidikannya masih berlanjut hingga sekarang.

“Paradigma tua” kepemimpinan Nasional

Saya kurang sependapat dengan pendapat pimpinan salah satu partai politik yang menyatakan bahwa pemimpin harus dari kalangan muda. Bagi saya permasalahannya bukan muda atau tua yang penting adalah cara berpikir yang dimiliki. Meskipun dari kalangan tua jika pola pikirnya revolusioner dan breakthrough itu lebih baik ketimbang kalangan muda yang hanya bermodalkan idealisme tetapi dengan gampangnya idealisme itu hilang ketika berbenturan dengan realitas yang ada.
Bangsa ini membutuhkan figur seorang pemimpin ideal, karena gaya kepemimpinan nasional saat ini menurut analisis saya masih masih menggunakan “paradigma tua” dan bersifat pragmatis. Kebijakan-kebijakan yang diterapkan tidak lagi dari sudut pandang pro masyarakat tetapi lebih mengedepankan unsur politis. Betapa mudahnya pemerintah menetapkan kenaikan BBM disaat tingkat kemiskinan masih tinggi. Padahal meskipun harga minyak dunia naik jika saja para pemimpin itu mau sedikit berpikir untuk mencari alternatif cerdas dalam menutupi defisit anggaran, kenaikan itu tidak semestinya terjadi. Begitu pula dalam kebijakan kompensasi yang diberikan pemerintah malah tak ambil pusing dengan menerapkan kebijakan praktis pemberian BLT kepada rakyat miskin. Padahal program tersebut telah terbukti berjalan tidak efektif.

Aksesibilitas yang rendah terhadap pendidikan tinggi

Konon katanya pendidikan tinggi hanya bisa diakses oleh hanya 2 % saja dari total penduduk Indonesia. Kalau berbicara masalah pendidikan rasanya memang sangat miris, 20 % anggaran nasional untuk pendidikan masih hanya sebatas wacana yang tak kunjung direalisasikan. Akibatnya pendidikan tinggi, yang merupakan sarana efektif untuk membentuk generasi handal yang siap bersaing, masih dirasakan sebagai barang mewah dan hanya sebagian kecil yang dapat merasakannya. Hal itu diperparah dengan makin banyaknya perguruan tinggi yang semakin mengomersilkan diri dengan dalih untuk meningkatkan kualitas universitas. Sebut saja PTN – PTN favorit seperti UI, ITB, UGM dan IPB yang lebih dulu statusnya berubah menjadi BHMN kini biaya yang ditetapkan untuk mahasiswanya tidak berbeda dengan biaya kuliah di universitas swasta, bahkan mungkin lebih mahal.

Idealisme itu hanya ada di dunia kampus dan forum seminar

Sosok idealis sepertinya hanya ditemukan dalam diri mahasiswa dan pembicara dalam forum seminar. Betapa tidak, oknum pejabat dan teknokrat yang sekarang berada pada tampuk kepemimpinan bangsa semuanya berawal dari status mahasiswa, mungkin dulu mereka juga termasuk aktivis mahasiswa berjaket kuning, biru, merah dan lainnya  yang getol berdemonstrasi menyuarakan idealismenya. Namun setelah mereka terjun langsung dalam birokrasi pemerintahan idealisme yang mereka miliki selama ini hilang seketika ketika dihadapkan dengan realitas yang ada. Sedangkan bagi mereka yang masih memiliki jiwa idealis umumnya mereka enggan untuk masuk dalam pemerintahan dan lebih memilih menjadi pembicara seminar-seminar yang diadakan di kampus yang bertemakan kritik terhadap kebijakan pemerintah. Dengan lantang dan tegas sang idealis berorasi dalam forum seminar menjual data-data kebobrokan pemerintah sementara hal ini mungkin hanya menjadi bahan tertawaan bagi rekan-rekannya yang dulu juga idealis hanya saja mereka kini berada dalam pemerintahan. Pengalaman saya sendiri setiap kali mengikuti forum seminar seperti ini yang saya rasakan hanyalah pesimisme dan hilangnya kebanggaan menjadi bangian dari bangsa Indonesia, oleh karena itu terkadang saya malas untuk mengikuti seminar maupun kajian yang sifatnya hanya membeberkan aib bangsa ini.

Yakinlah masih ada secercah harapan itu…

Dengan potensi besar yang dimiliki, bukanlah hal mustahil jika kelak bangsa ini mampu bersaing dalam tataran dunia internasional bahkan menjadi negara maju seperti Jepang dan Amerika Serikat asalkan saja kita mau mengubah mentalitas bangsa ini. Bagaimana kita mau mengubahnya tentu saja harus paripurna mulai dari mentalitas teknokrat dan pejabat pemerintahan, partai politik dan segenap elemen bangsa termasuk kita di dalamnya sebagai mahasiswa.

-memperingati 100 tahun kebangkitan nasional-

Advertisements

Responses

  1. weleh2.. harapan itu masih ada..seperti themesong tens 2008…

    bener bang… bangkit indonesiaku!!!

  2. sudah semestinya kita bangkit!,, semoga etoser bisa jadi pionir…:)

  3. Kang, kayaknya Indo ini udah disetting ama negara maju biar gak jadi negara maju. Tapi tidak salah jika kita berikhtiar untuk menuntaskan kewajiban. Apapun hasilnya, kita harus terima.

  4. sepakat rin,,,yang penting kita terus berikhtiar dan senantiasa bersikap optimistis..

  5. kang, liat blog baru saya yah 🙂

  6. Pemimpin seperti apa?

    Sebuah Metafora : Kepemimpinan Yang Jazzy

    Kepemimpinan yang bertumpu pada daya kreasi rakyat atau Kepemimpinan yang tidak melekat pada person tetapi sebuah kolektif kesadaran rakyat untuk menggerakan perubahan

    Berbeda dengan musik klasik, ada dirigen, partitur, pemain musik yang tertib di tempatnya masing, segudang pakem-pakem musik klasik, maka didalam musik jazz kebebasan, kreatifitas, keliaran, kejutan merupakan nafas dan jiwa musiknya. Ada saxophone, flute, drum, perkusi, bass gitar, piano yang masing-masing berdaulat penuh.

    Disatu sisi ada keliaran, tapi segala keliaran tetapmenghasilkan harmoni yang asyik. Kebebasan dan keliaran tiap musisi, patuh pada satu kesepakatan, saling menghargai kebebasan dan keliaran masing-masingmusisi sekaligus menemukan harmoni dan mencapai tujuannya, yakni kepuasan diri musisinya dan kepuasan pendengarnya.

    Jadi selain kebebasan juga ada semangat saling memberi ruang dan kebebasan, saling memberi kesempatan tiap musisi mengembangkan keliarannya (improvisasi) meraih performance terbaik. Keinginan saling mendukung, berdialog, bercumbu bukan saling mendominasi, memarginalisasikan dan mengabaikan.

    Seringkali saat bermusik ada momen-momen ketika seorang musisi diberikan kesempatan untuk tampilkedepan untuk menampilkan performance sehebat-hebatnya, sedangkan musisi lain agakmenurunkan tensi permainannya.

    Tapi anda tentunya tau gitar tetap gitar, tambur tetap tambur, piano tetap piano. Namun demikian dialog antar musisi dilakukan juga dengan cara musisi piano memainkan cengkok saxophone, musisi perkusi memainkan cengkok bass betot. OHOOOOOOOOO guyub dan elok nian.

    Lepas dari jiwa musik jazz yang saya sampaikansebelumnya tetap saja ada juga yang ‘memimpin’, pusatgagasan dan inspirasi tentunya dengan kerelaan memberi tempat kepemimpinan dari semua musisi. Bisa dalam bentuk beberapa person/lembaga maupun kolektifitas.

    Misalnya dalam grup Chakakan bahwa vocalisnya Chahakan adalah inspirator utama grup ini. Apa yang menarikdari vokalis Chahakan ini adalah dia yang menjadi inspirator, penulis lagu dan partitur dasar musiknya,selain itu improvisasi, keliaran dan kekuatan vokalnya menebarkan energi , menyetrum dan meledakkan potensi musisi pendukungnya.

    Model kepemimpinannya bukan seperti dirigen dalam musik klasik yang menjaga kepatuhan dan disiplin tanpa reserve, tetapi lebih menjadi penjaga semangat (nilai-nilai, atau bahkan cita-cita kolektif), memberiruang bagi setiap musisi untuk pengayaan gagasan danproses yang dinamis. Baik ketika mematerialkan gagasan maupun ketika berproses di panggung atau di studio rekaman. Tidak memaksakan pola yang baku dan beku, tetapi sangat dinamis dan fleksibel.

    Setiap penampilan mereka di panggung adalah penemuan cengkok-cengkok baru, nyaris sebenarnya setiap performance selalu baru. Tidak ada penampilan yang persis sama. Tetapi tetap mereka dipandu tujuan yang sama memuaskan kebutuhan masing-masing musisi dan pendengarnya,menggerakan dan merubah.

    Yang menarik juga dari jazz ini adalah sifatnya yangterbuka, open mind, open heart. Waljinah, master penyanyi keroncong dengan lagu walang kekeknya, ataulagu bengawan solonya gesang, atau darah juang lagu perlawanan itu, ravi shankar dengan sitar, rebab dan spirit indianya, atau bahkan internasionale dan maju tak gentar, atau imaginenya john lennon, atau reportoar klasik bach, bahkan dangdut pun, bahkan lagu-lagu spiritual bisa diakomodir oleh musisi jazz dan jadi jazzy.

    Itulah karakter kepemimpinan yang asyik, kepemimpinan yang berkarakter kepemimpinan spiritual, menjaga dan menyalakan spirit/semangat/ nilai-nilai/ garis perjuangan, menyeimbangkan dan mencapai harmoni musik.

    Selain itu kepemimpinan ini harus bisa fleksibel dalam pengayaan pilihan-pilihan pendekatan, bisa menawarkannuansa keroncong, dangdut, gending, samba, regge,rock, gambus, pop, klasik dalam bermusik jazz. Ataumemberi peluang atau kesempatan satu musisi atau alat musik leading, maju kedepan dan yang lainnyamemperkaya di latar belakang. Lepas dari itu bukan berarti saya lebih mencintai jazz, dibanding klasik, new age atau dangdut, tetapiini lebih kepada menemukan analogi dan metafora.

    salam hangat

  7. santo..ajarin gw bikin applikasi kayak di sebelah kanan bawah blogmu dong..yg ada komunitas2 blog gtu..aku ndak bisa euy

  8. saat ini indeks korupsi Indonesia di dunia internasional (bdsk penelian World Bank) masih berwarna ORANYE, sudah meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya yang berwarna MERAH TUA (note: semakin tua warnanya berarti semakin korup)
    Namun, pembasmian TOTAL korupsi tidak akan membawa kesejahteraan dalam “tempo singkat” kepada rakyat banyak, ini terlihat dalam kasus Chile yang dalam beberapa tahun terakhir indeks korupsinya sudah berada di warna HIJAU MUDA, dengan kata lain pemerintahan Chile termasuk salah satu yang terbersih di dunia namun rakyatnya masih hidup dalam taraf negara berkembang.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: